Baru dari Midtrans, Aktivasi Metode Pembayaran UOB EZ Pay Sekarang!

Lebih lanjut. close
21 Aug

Waspada, Ini 6 Risiko Sistem Keamanan Jaringan pada Bisnis Anda!

Yovita

by Yovita

view33Views

Maraknya ancaman digital mendorong urgensi penerapan sistem keamanan jaringan, terutama pada bisnis yang menyediakan online payment untuk menyimpan data pengguna. Jika tidak memiliki jaminan keamanan kuat, data bisa jatuh ke tangan pelaku serangan siber

Ketika terjadi kebocoran data, informasi tersebut bisa disalahgunakan demi kepentingan pribadi pelaku. Insiden semacam itu berbahaya dan dapat menurunkan kredibilitas perusahaan. Untuk mencegahnya, simak enam risiko sistem keamanan jaringan berikut ini! 

Baca juga: Keamanan Digital Adalah: Ini 7 Cara Menjaganya


6 Risiko Sistem Keamanan Jaringan pada Bisnis

sistem-keamanan-jaringan

1. Malware

Istilah malware digunakan untuk segala jenis perangkat lunak berbahaya (malicious software). Malware sengaja dirancang dengan tujuan merusak atau mengeksploitasi perangkat, layanan, atau jaringan digital. Ketika menyerang, pelaku menargetkan data finansial, kesehatan, hingga informasi pribadi. Data yang diperoleh kemudian digunakan supaya mendapatkan uang.

Cara kerja malware berbeda-beda sesuai tipenya. Jenis yang paling umum ditemukan adalah virus, di mana korban biasanya membuka lampiran email atau link dengan muatan malware. Ransomware juga sering digunakan karena pelakunya dapat mendapatkan uang dalam waktu singkat. Pelaku tinggal melakukan peretasan dengan menempatkan ransomware di alat elektronik, lalu mengancam agar korban memberikan uang kepadanya.

Terdapat sejumlah malware lain yang perlu diwaspadai. Ada mal advertising, trojan, worm, sampai fileless malware. Keberadaan perangkat berbahaya ini kerap tidak disadari sebelum terjadinya penyalahgunaan data oleh pelaku.

2. Phishing 

Ancaman phishing bisa datang dari media komunikasi seperti media sosial, SMS, hingga telepon. Namun, umumnya phishing paling sering menyerang lewat email. Dalam hal ini, penerima ditipu dengan pesan yang terlihat seperti dikirimkan oleh lembaga tepercaya. Contohnya email palsu yang kelihatannya dikirim oleh bank, tapi meminta informasi seperti PIN, kode CVV kartu kredit, atau kata sandi.

Penipuan berbentuk phishing juga dapat melibatkan malware. Awalnya, korban diarahkan untuk men-klik link tertentu melalui pesan palsu. Link itu dapat mengecoh korban supaya memasang malware di perangkatnya sendiri.

3. Open Wi-Fi

Anda mungkin pernah mendengar bahwa menggunakan Wi-Fi umum berpotensi mengundang bahaya. Walau begitu, open Wi-Fi masih sering digunakan. Penggunaan fasilitas publik yang gratis ini sebenarnya berisiko, lho.

Dengan kebiasaan work from anywhere, banyak orang memanfaatkan Wi-Fi umum untuk bekerja. Hal tersebut dapat membuat perangkat Anda terkena malware atau serangan man in the middle (MiTM). Saat ada hacker yang menerapkan MiTM, pelaku dapat menyadap aktivitas komunikasi orang yang terhubung Wi-Fi umum atau beraksi dengan menyelipkan program berbahaya untuk mencuri data.

Selain data bisnis, serangan MiTM juga menargetkan pengguna layanan finansial dan e-commerce. Pelaku diam-diam memperoleh data sensitif melalui intersepsi koneksi Wi-Fi gratis, lalu mengupayakan keuntungan darinya.

Baca juga: Inti Pentingnya Keamanan Data Bisnis di Era Digital dan Tips Menjaganya

4. Software yang Tidak Up-to-Date

Perkembangan teknologi bergerak begitu cepat, yang berarti software memiliki usia sesuai siklus pembaruan. Perangkat lunak tidak update membuatnya tidak bisa berjalan dengan lancar atau terintegrasi dengan aplikasi baru.

Setiap pembaruan software umumnya memberikan tambahan pada aspek keamanan, apalagi jika itu merupakan perangkat sistem keamanan jaringan. Jika tidak diperbarui, Anda bisa menghadapi risiko serangan siber akibat sistem keamanan jaringan kurang canggih.

5. Ancaman dari Pihak Dalam

Sebagian besar serangan siber merupakan buntut dari kelalaian. Bentuknya beragam, seperti pengambilan keputusan yang salah, tertipu oleh phishing, password lemah, hingga pembobolan dari internal.

Risiko internal mengakibatkan pengaruh signifikan bagi perusahaan. Pihak internal perusahaan mengetahui dan menyimpan informasi seputar jalannya bisnis. Apabila jatuh ke tangan orang yang salah, data pun dapat disalahgunakan.

6. Serangan DoS

Denial of Service (DoS) dan Distributed Denial of Service (DDOS) menyerang server website. Situs jadi mengalami crash, berjalan dengan lambat, atau tidak berfungsi sama sekali. Jika ini terjadi pada bisnis Anda, risiko yang mengikutinya adalah komplain pelanggan, kehilangan pendapatan, dan reputasi buruk.


Mengetahui deretan ancaman yang ada, dapat terlihat pentingnya sistem keamanan jaringan bagi jalannya bisnis. Itulah kenapa setiap organisasi perlu memastikan keamanan aktivitasnya terjamin, termasuk saat melakukan transfer dana.

Untuk urusan satu ini, tidak perlu khawatir sebab Midtrans menyediakan solusi transfer uang dengan sistem keamanan berlapis. Pengiriman dana dan disbursement juga menjadi praktis berkat adanya jaringan ke berbagai bank Indonesia serta kompatibel dengan berbagai sistem.

payment-gateway

  • twitter
  • facebook
  • WA
  • mail