Penerapan model keuangan dan modal tambahan yang tepat untuk bisnis itu seperti apa?

Cari tahu jawabannya di Konferensi Maju Digital 2022. close
15 Oct

6 Rumus dan Cara Menghitung Cash Flow, Jangan Sampai Keliru!

Yovita

by Yovita

view653Views

Cash flow adalah laporan arus kas yang berisi pemasukan dan pengeluaran bisnis. Contoh pemasukan adalah saat Anda menjual persediaan barang ke konsumen atau menagih angsuran bulanan pelanggan. Sedangkan untuk pengeluaran, contohnya adalah saat Anda harus transfer uang ke vendor/partner atau bayar gaji karyawan. Agar Anda bisa menghitung cash flow dengan benar, simak rumus dan cara menghitung cash flow berikut ini!

Baca juga: Jaga Stabilitas Cash Flow Selama Pandemi dengan Midtrans Merchant Financing


6 Rumus dan Cara Menghitung Cash Flow

rumus-dan-cara-menghitung-cash-flow-(3)

1. Free Cash Flow

Secara umum, free cash flow (arus kas bebas) mengukur berapa banyak uang tunai yang dihasilkan oleh bisnis setelah membayar biaya pengeluaran modal, seperti bangunan dan peralatan. Arus kas bebas dapat digunakan untuk ekspansi bisnis, membayar utang, atau membayar dividen tambahan kepada investor. 

Jika bisnis Anda masih berskala sangat kecil, Anda bisa lebih fokus pada pembukuan dasar dan belum perlu menghitung arus kas bebas. Namun, jika bisnis Anda berkembang dan Anda ingin memperluas bisnis, maka menghitung arus kas bebas akan sangat diperlukan.

Rumus Free Cash Flow: Laba bersih + Penyusutan/Amortisasi – Perubahan Modal Kerja – Belanja Modal

Katakanlah usaha Anda memiliki laba bersih sebesar Rp800.000.000, penyusutan/amortisasi Rp0, perubahan modal kerja – Rp100.000.000, dan pengeluaran modal sebesar Rp25.000.000. Maka, free cash flow usaha Anda adalah Rp675.000.000.

Laba bersih (Rp800.000.000) + Penyusutan/Amortisasi (Rp0) – Perubahan Modal Kerja (– Rp100.000.000) – Belanja Modal (Rp25.000.000) = Free Cash Flow (Rp675.000.000)

2. Operating Cash Flow

Dengan menghitung operating cash flow, Anda bisa memperoleh gambaran kemampuan usaha untuk menghasilkan uang tunai dari operasi bisnis normal. Berikut rumus dan cara menghitung cash flow operasional:

Operating Cash Flow = Laba Bersih + Pengeluaran Non Tunai – Perubahan Modal Kerja

Contohnya, usaha Anda memperoleh pemasukan dari penjualan produk sebesar Rp20.000.000. Anda kemudian mendapatkan bunga piutang dari pendapatan tersebut sebesar Rp2.500.000. Untuk pengeluaran, Anda perlu membayar pajak sewa sebesar Rp1.500.000 dan gaji karyawan sebesar Rp4.000.000. Maka, operating cash flow usaha Anda adalah Rp17.000.000.

Laba Bersih (Rp20.000.000 + Rp2.500.000) + Pengeluaran Non Tunai (Rp1.500.000 + Rp4.000.000) = Operating Cash Flow (Rp17.000.000)

Baca juga: 5 Tips Memilih Mitra Pembayaran Online Yang Tepat

3. Investment Cash Flow

Investment cash flow adalah arus kas masuk dan arus keluar bersih dari belanja modal, merger dan akuisisi, serta pembelian atau penjualan surat berharga. Anda dapat menghitung investment cash flow dengan menambahkan pembelian atau penjualan properti dan peralatan, bisnis lain, dan surat berharga. Seluruh item ini tercantum dalam cash flow statement, namun dapat pula diidentifikasi dengan membandingkan aset tidak lancar di neraca selama dua periode.

Investment Cash Flow = Pendapatan Investasi - Pengeluaran Investasi

Contohnya, bisnis Anda mendapatkan kas dari penjualan saham sebesar Rp50.000.000 dan Rp70.000.000 dari penjualan obligasi. Dalam periode tersebut, Anda juga membeli properti investasi senilai Rp80.000.000. Maka, investment cash flow usaha Anda adalah Rp40.000.000.

Pendapatan Investasi (Rp50.000.000 + Rp70.000.000) - Pengeluaran Investasi (Rp80.000.000) = Investment Cash Flow Rp40.000.000.

4. Financing Cash Flow

Financing cash flow adalah rumus dan cara menghitung cash flow bersih antara usaha dan pemiliknya, kreditur, serta investor. Untuk menghitung financing cash flow, tambahkan dividen yang dibayarkan ke pembelian kembali utang dan ekuitas, lalu kurangi jumlah total cash inflow dari penerbitan ekuitas atau utang. Seluruh item ini juga dapat Anda temukan dalam cash flow statement.

Financing Cash Flow = Cash Inflow dari Penerbitan Ekuitas atau Utang - (Dividen Dibayar + Pembelian Kembali Utang dan Ekuitas)

Sebagai contoh, usaha Anda memiliki cash inflow dari penerbitan ekuitas atau utang sebesar Rp150.000.000, Rp20.000.000 dividen dibayarkan, dan Rp50.000.000 pembelian kembali utang dan ekuitas. Maka, financing cash flow usaha Anda adalah Rp80.000.000.

Cash Inflow dari Penerbitan Ekuitas atau Utang (Rp150.000.000) - (Dividen Dibayar (Rp20.000.000) + Pembelian Kembali Utang dan Ekuitas (Rp50.000.000)) = Financing Cash Flow (Rp80.000.000)

Baca juga: Perbedaan Social Commerce dan E-Commerce: Definisi, Keuntungan & Kekurangannya

5. Net Cash Flow

Net cash flow adalah perbedaan antara seluruh cash inflow dan cash outflow usaha pada periode tertentu. Ini adalah indikator utama kesehatan keuangan bisnis. Menyeimbangkan cash inflow dan outflow sangat penting untuk mempertahankan bisnis yang sehat. Untuk menghitung net cash flow, cukup kurangi total cash outflow dengan total cash inflow.

Net Cash Flow = Total Cash Inflow – Total Cash Outflow

Contohnya, katakanlah usaha Anda memiliki Rp150.000.000 cash inflow dan Rp100.000.000 cash outflow. Maka, net cash flow akan menjadi Rp50.000.000.

Cash Inflow (Rp150.000.000) - Cash Outflow (Rp100.000.000) = Net Cash Flow (Rp50.000.000)

6. Forecasting Cash Flow

Sementara free cash flow dan operating cash flow memberi Anda gambaran tentang arus kas dalam periode tertentu, rumus dan cara menghitung cash flow satu ini lebih Anda butuhkan saat merencanakan masa depan. Itulah mengapa forecasting (memperkirakan) arus kas usaha untuk bulan atau kuartal mendatang bisa lebih berguna dalam mengetahui berapa banyak uang tunai yang akan dimiliki bisnis.

Rumus Forecasting Cash Flow: Kas Awal + Proyeksi Arus Masuk – Proyeksi Arus Keluar = Kas Akhir

Contohnya, katakanlah usaha Anda memiliki kas awal sebesar Rp30.000.000, proyeksi arus masuk untuk 90 hari ke depan adalah Rp30.000.000, sementara proyeksi arus keluar untuk 90 hari ke depan adalah Rp4.000.000. Maka, forecasting cash flow usaha Anda adalah Rp56.000.000.

Kas Awal (Rp30.000.000) + Proyeksi Arus Masuk (Rp30.000.000) – Proyeksi Arus Keluar (Rp4.000.000) = Kas Akhir (Rp56.000.000)

Itulah berbagai rumus dan cara menghitung cash flow berdasarkan tujuannya. Agar lebih mudah menghitung cash flow, tentu data pemasukan dan pengeluaran bisnis Anda wajib tercatat rapi. Tak perlu khawatir jika selama ini Anda telah menggunakan sistem pembayaran Payouts dari Midtrans yang menyediakan dashboard untuk memonitor semua transaksi.

Payouts dari Midtrans merupakan solusi mudah penuhi berbagai jenis kebutuhan pengiriman dana dan disbursement bisnis Anda. Pengiriman dan disbursement Midtrans mengakomodasi semua kebutuhan, baik manual maupun otomatis, ke satu atau banyak akun sekaligus. Yuk, daftar Midtrans sekarang juga untuk catat setiap transaksi usaha dan buat laporan arus kas terbaik!

 

payment-gateway-indonesia

  • twitter
  • facebook
  • WA
  • mail